Bencana, Beasiswa, dan Badut

  • Aldi Reihan
  • Disukai 0
  • Dibaca 68 Kali

23 Desember 2018

Di sebuah warung makan, ada sekumpulan anak muda yang asyik berdiskusi tentang kehidupan. Ada yang menceritakan tentang pekerjaannya, pengabdian menjadi guru, dan bisnis yang sedang dirintis, masing-masing memiliki cerita yang berbeda. Setiap dari mereka akan memberikan tanggapan satu sama lain dan saling mendukung. Salah satunya aku, Aldi Reihan.

Di tengah asyiknya ngobrol, aku langsung mengutarakan apa yang dibaca dalam pesan masuk di ponsel. 

“Bro, tadi ada pesan di grup whatsapp. Katanya banyak anak-anak yang sedih di posko bencana Labuan kemarin, lalu apa yang kita bisa lakukan nih?” ujarku.

Sebagai anak muda, aku berpikir tentang bagaimana supaya tidak hanya berdiam diri ketika mengetahui kenyataan ada orang lain di sekitar kita yang sedang kesulitan. Aku berpikir, sebagai manusia kita harus memberi dampak kepada orang lain, mengambil peran meskipun itu kecil.

“Kita bisa buka donasi di info UIN tuh, Di. Terus nanti kita ke sana berangkat menghibur para penyintas,” ujar Bang Wiko.

“Menghibur? Asyik juga tuh,” kata Bang Febri.

“Kira-kira perlu mendatangkan siapa ya? Atau sosok apa yang membuat anak-anak di posko terhibur?” tanyaku.

“Mendongeng sepertinya bisa, tapi kita gak ada yang bisa dongeng!” Seru Bang Wiko.

Ide dari Bang Wiko ada benarnya juga, dongeng bisa menghibur anak-anak penyintas bencana, tapi tidak ada di antara kami yang bisa mendongeng. Lama berpikir, aku jadi merasa lapar. Aku memesan nasi balap satu porsi padahal sebelumnya sudah makan semangkuk bakso. Memang kalau perut lapar, pikiran jadi tidak bisa diajak konsentrasi. Selepas makan, aku dan kawan-kawan malaksanakan shalat maghrib berjamaah di mushola, lalu kembali lagi ke warung makan untuk melanjutkan obrolan yang sempat tertunda.

“Gimana kalo kita menghibur dengan kostum badut? Aku masih ada uang beasiswa bidikmisi nih buat beli kostumnya,” kataku mengajukan ide.

Obrolan terus berlanjut hingga malam, dan akhirnya kami mencapai kesepakatan untuk membeli kostum badut. Alasan membeli kostum badut agar adanya keberlanjutan untuk menghibur di satu lokasi hingga lokasi lainnya. Selain itu, kontinuitas itu juga dimaksudkan untuk menjaga dan merawat semangat anak muda untuk peka terhadap masalah sosial kebencanaan. Supaya ke depannya ada fasilitas untuk melakukan kegiatan sosial dengan media menghibur dengan badut.

Selengkapnya bisa baca di buku KolaborAksi Kebaikan untuk Negeri : https://tokopedia.link/TI8MtGVX6Fb


Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin